Ngapain di Toraja ? (4) : Berburu Belut Purba dan Menikmati Sore di Toraja

Definisi jalan pintas yang direkomendasikan oleh mbak penjaga loket di Lemo – yang baru kami tahu beberapa saat kemudian, adalah : jalan naik-turun-mbulusuk sawah-masuk hutan-alhamdulillah akhirnya sampai dengan selamat.

DSCF0467
Awal jalur pintas dari Lemo menuju Tilanga’

Ingat soundtrack film kartun Ninja Hattori?

Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra. Membawa kita bertualang.

Itulah jalur yang harus kami lewati untuk sampai di Tilanga’. Naik-turun gunung. Tetapi tanpa sungai yang mengalir indah ke samudra.

Bedanya, Ninja Hattori tidak pernah berhenti tersenyum waktu adegan naik-turun gunung. Kalau kami, wajah kami sudah pucat pasi, was-was takut nyasar di negeri orang, takut ngga bisa pulang. Saya yang udah khawatir duluan berkali-kali tanya ke gadis : “Bener nih Dis jalannya?” dan selalu dijawab “iya mbak.. udah lanjut aja”

Bismillah karena sudah kepalang basah, saya gas pol aja itu motor pinjaman milik Pak Markus. Sambil beberapa kali berhenti untuk memastikan arah kepada orang yang kami temui selama di perjalanan : pak tani di sawah, mas-mas jaga warung, sampai akhirnya bertemu dengan anak remaja yang baru pulang sekolah. Ternyata Tilanga’ yang kami baru saja kami terlewat 100 meter di belakang.

Eh ternyata udah sampai aja dong kita di Tilanga’. Memang rawan bikin nyasar sih. Di loket pintu masuk, tulisan “TILANGA”-nya aja minim banget begitu. Memang harus sering-sering berhenti dan bertanya ke penduduk local supaya ngga nyasar.

Tilanga’

DSCF0472
Tilanga. Konon katanya ada belut purba raksasa yang masih hidup dan tinggal di danau ini.

Jam 2.15 siang kami sampai di Tilanga’, dan disambut oleh bapak penjaga loket yang anaknya pernah kuliah di Bandung. Berawal dari kesamaan daerah dengan Gadis yang juga dari Bandung, kami mengobrol sebentar dan sekalian menitipkan hasil belanjaan seharian tadi di loket pintu masuk.

Jadi, Tilanga ini adalah semacam kolam, danau, atau semacam sumber air alami. Waktu kami sampai sudah banyak warga lokal yang datang, berenang sambil main air. Konon katanya disini hidup belut purba, siapa tahu kami beruntung bisa bertemu dengan belut purba yang terkenal ini.

Di pintu masuk, ada anak kecil yang menawari melihat belut. Berpikir si anak ini adalah guide lokal, ya sudah kami terima saja tawarannya. Sampai di dekat kolam, langsung saja si adek ambil posisi pewe : ogoh-ogoh lubang di kolam yang katanya sarang sang belut sambil pegangan akar pohon. Iya, hanya akar pohon saja. Demi keselamatan si adek, kami pun segera meminta adek naik ke atas.

DSCF0468
Saya serem, si adek malah menikmati banget posisi pewe-nya ini.
20160223171707_IMG_1130
Ini posisi pewe versi saya. Duduk cantik di tempat yang aman, siap pose untuk difoto. hehe

Lalu dia-pun berkata,”telurnya ada di atas, Kak.”

Eh, loh kok telur?

Ternyata ada salah paham saudara… jadi si adek – belakangan kita baru tahu namanya adalah Ridah – bicara dengan Bahasa Indonesia campur Bahasa daerah dengan logat Toraja yang sangat kental. Pas kita dengar,” belut-nya kakak”, ternyata yang si adek bilang adalah ,”telur-nya kakak”.

Supaya Ridah ngga kecewa, kami pun mengikutinya menuju tempat telur yang dia maksud. Ternyata Ridah mengajak kami ke warung yang ada di sebelah atas, begitu sampai dia menunjuk telur bebek. Oh, jadi ini warung bapaknya?

Ternyata bukan juga.

Supaya tidak salah paham, kami pun bertanya kepada Bapak pemilik warung perihal Ridah dan telurnya. Singkat cerita, Ridah ini – kalau kami ngga salah mengerti – adalah tetangga si Bapak yang membantu Bapak menjaga anak bungsungnya yang masih balita.

Lalu telurnya?

Mungkin Ridah juga membantu Bapak berjualan di warung, termasuk berjualan telur bebek ini juga. Berhubung saya dan Gadis sudah mulai lapar lagi, sekalian saja kami pesan indomie merk lokal pakai telur.

Sambil nungguin Bapak masak mi, perut saya tiba-tiba bergejolak, pertanda harus segera ke toilet. Haha maafkan saya harus cerita ini juga disini.. Di dekat warung ada toilet umum namun tidak layak pakai. Ya sudah saya pun makan mie sambil menahan perut yang semakin bergejolak. haha

20160223173213_IMG_1147
Menunggu mie matang di warung Bapak tetangganya Ridah sambil menahan gejolak perut haha 🙂

Mie yang dibawa Bapak, kayaknya hanya diseduh aja, tanpa dimasak. Cara masak mie yang seperti ini, membuat saya ingat kebiasaan jaman sekolah dulu, seduh saja mie-nya supaya cepat, walaupun besoknya perut saya pasti langsung kembung haha.

Ajaibnya mie ini bisa kami habiskan segera setelah dihidangkan. hehehe…

Jam 3.30 sore, puas lihat anak berenang di danau, puas dipalakin anak kecil yang meminya uang receh untuk dilempat ke danau, puas makan mie seduh, kami pun segera kembali ke kota Rantepao.

Di tengah jalan sebelum sampai kota, kami menemukan sepetak kebun bunga yang sedang bermekaran. Cuek, karena toh tidak ada yang kami kenal disana, mampirlah kami untuk foto-foto, walaupun beberapa kendaraan lain yang lewat melihat kami dengan pandangan heran. Haha…

20160223182041_IMG_1163
Bunga di tepi jalan
DSCF0486
Kendaraan tempur dan hasil rampasan perang hari ini

Sekitar jam 4 kami sampai di kota Rantepao. Tidak lupa kami mampir gereja Rantepao yang bentuknya mirip dengan Ke’te’ Kesu : ada beberapa rumah tongkonan berjejer. Gereja nya sendiri juga menggunakan desain rumah tongkonan.

DSCF0491
Gereja Rantepao
DSCF0489
Jejeran rumah tongkonan di area gereja

Sampai kota Rantepao, kami sudah kehabisan agenda. Baru jam 4 sore, padahal kami janjian dengan Pak Markus untuk mengembalikan motor jam 6. Akhirnya kami mampir lagi ke pasar oleh-oleh Rantepao – yang ternyata adalah deretan toko yang masih tutup tadi pagi dekat tempat kami sarapan bubur. Jenis barang yang dijual hampir sama dengan yang ada di Kete Kesu, Londa, maupun Lemo.

Menghindari godaan untuk belanja lebih banyak lagi, segeralah kami keluar dari pasar, ternyata sudah gerimis. Di lampu merah dekat pasar – lampu merah yang sama yang kami lewati tadi subuh dengan berjalan kaki – ternyata ada kafe di sebelah kiri. Segera kami belok kiri, sebelum hujan bertambah deras.

DSCF0500
Kafe Aros Toraya

Kafe Aros Toraya – ini tempatnya sangat direkomendasikan untuk beristirahat sambil menunggu datangnya bis nanti malam jam 9. Colokan banyak, makanan minuman enak– saya pesan mixed juice wortel-tomat habis 2 gelas, Gadis pesan jus mangga juga oke rasanya. Juaranya adalah steak kerbau yang 1 porsi kami habiskan berdua supaya tidak terlalu kekenyangan.

DSCF0522
Steak kerbau penyelamat perut yang keroncongan
DSCF0505
Tudung lampu-nya unik
DSCF0519
Di dinding dekat kasir dipasang Pancasila. Baru nemu kafe yang memajang pancasila seperti ini.

Jam 6 sore saya menghubungi Pak Markus untuk mengembalikan motor. Tips gampang untuk janjian ketemu adalah : cari tahu dimana poll bis terdekat. Orang lokal biasanya sudah hapal posisi poll masing-masing armada bus. Awalnya saya coba menjelaskan nama dan posisi kafe Aros Toraya, Pak Markus tidak tahu. Saya bilang dekat lampu merah pasar, Pak Markus kebablasan. Pas akhirnya saya bilang dekat poll bis xxx (saya lupa nama bis nya hehe), eh, langsung paham Bapaknya.

Kenyang makan steak kerbau dan berbagai macam juice, alat elektronik pun juga sudah penuh kembali tenaganya, sekitar jam 8 malam saya dan Gadis jalan kaki ke poll bis Primadona. Di poll bis yang sudah ramai calon penumpang, kami dengan cueknya membongkar ransel, repacking tas supaya belanjaan oleh tadi siang bisa muat masuk semua ke dalam tas ransel. Alhamdulillah cukup…

Jam 8.30, bis sudah siap berangkat. Kami baru sadar antimo sisa semalam hilang entah kemana. Segera kami mencari antimo di toko terdekat supaya perjalanan nanti malam aman seperti kemarin. Antimo terbeli, kami pun langsung masuk bis, siap berangkat kembali ke Makassar.

Di dalam bis, sudah ada sepasang bapak-ibu yang di depannya bergelantungan colokan listrik. Ternyata di bis yang kami naiki dari kemarin ada colokannya saudara-saudaraaa… tempatnya di bagasi kabin atas, tersembunyi di belakang sound system. Supaya lebih mudah memang harus bawa kabel ekstensi sendiri seperti bapak-ibu ini.

Terimakasih Toraja. Perjalanan hari kedua ini super luar biasa. Insha Allah akan kembali lagi untuk lihat batutumonga, lolai, dan tempat-tempat lain yang belum sempat kita kunjungi.

DSCF0515
Sebelum pulang, rekap semua pengeluaran hari ini, biar tidak over budget. hehe…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s