Ngapain di Toraja ? (3) : Lihat Makam (lagi) di Lemo

Lemo

DSCF0459
Patung kerbau albino di depan pintu masuk. Selamat datang di Lemo!

Rencana awalnya sih dari Londa kami akan ke Tilanga’ dulu baru ke lemo. Apa daya karena kebablasan, ya sudah kami lanjut ke Lemo dulu saja. Kami sampai di Lemo pas sedang panas-panasnya, sekitar jam 1. Hampir tidak ada pengunjung yang datang bersama dengan kami. Menurut informasi dari mba-mba penjaga loket, biasanya Lemo akan ramai di pagi atau sore hari. Bismillah… no problemo!

Jadi, Lemo ini adalah komplek pemakaman juga, seperti di Londa. Bedanya, kalau di Londa kami diajak masuk gua dan bisa melihat langsung peti mati dan tengkoraknya. Nah, di Lemo ini kami hanya bisa melihat dinding batu yang penuh dengan Tau-Tau – seperti di bagian depan Londa tadi.

Ada 2 jalur yang bisa dipilih di Lemo. Jalur pertama, dari loket pintu masuk ambil jalur lurus sampai ke patung selamat datang Lemo, ikuti beberapa kali turunan anak tangga, dan akan sampai ke tebing batu yang penuh dengan Ta-Tau.

DSCF0424
Tebing batu dilihat dari atas

Di tengah perjalanan menuju tebing batu, kami melewati salah satu workshop pembuat Tau-Tau milik Pak Eko. Tau-Tau adalah patung ukir kayu yang wajahnya dibuat semirip mungkin dengan jenazah yang meninggal dan diberi pakaian kain khas toraja, sebagai pengingat keberadaan almarhum – karena pada waktu itu belum ada teknologi kamera dan sebagainya. Dari pagi di Kete’ Kesu sebenarnya kami juga sudah melihat banyak Tau-tau. Tapi yang dibuat oleh Pak Eko di workhopnya ini beda – semacam versi premiumnya. Ukirannya lebih halus, dan detail wajahnya lebih terlihat. Di sini dipersilahkan foto-foto, dengan membayar 2ribu per orang.

DSCF0435
Pak Tani dan Bu Tani
DSCF0437
Penjaga gerbang menuju tebing batu
DSCF0442
Tau-Tau dimana-mana
DSCF0439
Versi paket komplit, paket keluarga juga tersedia
DSCF0449
Ini kok mirip orang jepang ya? hehe

Pak Eko ini sudah sangat terkenal sebagai perajin Tau-Tau, bahkan sempat diliput di salah satu majalah di Jepang. Kemarin sayangnya Pak Eko sedang berisitirahat, kami hanya bertemu dengan istrinya saja. 1 Tau-Tau yang kecil ini dijual seharga 30 ribu, yang besar bisa sampai 60ribu.

DSCF0438
Bu Eko bersama tau-tau hasil karya suaminya
DSCF0427
Sarung bugis yang kami temukan di toko oleh-oleh di seberang workshop Pak Eko

Tidak lama dari workshop Pak Eko, sampailah kami di tebing batu yang penuh dengan Tau-Tau

DSCF0454
Akhirnya sampai juga! 🙂

Dari tebing batu, kami kembali menuju loket pintu masuk. Niat awalnya sih kami akan mengikuti rute menuju tebing batu di jalur ke-dua, menuruni anak tangga yang ada di belakang pintu loket masuk. Menurut informasi dari mbak-mbak penjaga pintu loket, kompleks pemakaman yang ini masih terbilang baru jadi belum ramai. Karena saat itu panas cukup terik, kami urung menuju kesana, dan malah duduk-duduk sambil istirahat di tangga sambil mengobrol dengan mbak-mbak penjaga loket yang sangat ramah.

DSCF0460
Tebing Batu jalur ke dua, di belakang pintu loket masuk. Ini di foto dari tangga di sebelah pintu masuk hehe
DSCF0463
Mbak-Mbak penjaga loket pintu masuk yang sangat ramah

Kepada mbak-mbak penjaga loket, kami bertanya arah menuju Tilanga’, tujuan wisata berikutnya yang tadi sempat terlewat. Oleh beliau, kami diberi tahu jalur alternatif menuju Tilanga’, dengan embel-embel lebih dekat dan tidak perlu memutar lewat jalan raya.

 

Berbekal keyakinan kami atas rekomendasi jalur pintas yang diberikan oleh beliau, tidak lama kemudian kami pun pamit dan segera tancap gas menuju Tilanga’.

20160223165159_IMG_1115
Siap menuju Tilanga’!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s