Ngapain di Toraja ? (1) : Lihat Rumah Tongkonan di Ke’te’ Kesu

Begitu turun dari bus, kami langsung disambut oleh geng ojek dan travel Toraja. Dengan muka bantal baru bangun dari tidur panjang, kami menolak semua tawaran dan langsung menuju ke masjid terdekat. Begitu sampai di persimpangan jalan, kami hilang arah. Mau belok kemana juga tidak tahu. Di belakang kami masih ada 1 orang bapak-bapak pemilik travel yang masih mengikuti kami. Takut-takut kami bertanya pada si bapak yang berambut gondrong dan bermuka galak.Ternyata bapak ini sangat baik, dan menunjukkan kami jalan ke masjid yang kami maksud. Dari sini lurus, ada lampu merah, belok kiri. Masjidnya nanti sudah kelihatan dari situ. Di sebelah bank BRI. Siap Pak!

Sampai masjid, ternyata sudah ada beberapa orang yang menunggu di pelataran. Masjidnya gelap, pintu dikunci – bahkan pintu ke toilet juga terkunci. Hanya pintu gerbangnya saja yang terbuka. Mungkin memang adat di sini, masjid hanya dibuka ketika jam sholat saja. Yah minimal kami ada tempat menunggu sambil meluruskan kaki.

Segera saya menghubungi Pak Markus, pemilik motor yang motornya akan kami sewa hari ini. Waktu masih menunjukkan jam 5 lewat, langit masih gelap, untungnya Pak Markus segera mengangkat telepon panggilan saya. Setelah menjelaskan posisi saya, tidak lama Pak Markus datang membawa motor yang akan kami pakai. Awalnya saya kira Pak Markus ini orang jawa, karena cara bicaranya halus sekali, tidak seperti bapak-bapak lain yang logatnya keras ketika berbicara – kalau kata saya dan Gadis seperti orang marah-marah, padahal lagi ngobrol biasa hehe.

Sebagai syarat penyewaan motor, saya diminta menyerahkan KTP asli dan uang 100rb untuk biaya sewa motor. Pak Markus mengisi formulir administrasi untuk kelengkapan data. Saya spontan mengecek kondisi motor yang akan kami pakai. Matic, asik ngga bakal capek ngoper gigi. Agak kotor, di bagian slebor ban ada bekas cipratan tanah – mungkin baru dipakai kemarin dan belum sempat dicuci. Oke, tidak masalah. Helm? Ada – 2 helm standar. Spion? Aman – spion standar. Plat nomer? Loh kok ngga ada?

Ketika saya menanyakan perihal tidak adanya plat nomer ini kepada Pak Markus, beliau menunjukkan surat keterangan pengurusan stnk dan plat nomer yang disimpan dalam bagasi. Ternyata motor ini  baru dibeli jadi belum ada plat nomernya.

Bukannya mestinya ada plat sementara ya Pak?

Belum sempat saya ucapkan pertanyaan ini, beliau langsung bilang tidak apa-apa, nanti tinggal telepon saja kalau ada apa-apa di jalan. Sebelum pulang, pesan terakhir beliau ke saya adalah : “Hati-hati di jalan ya. Helm-nya jangan ditinggal di parkiran, rawan hilang. Dibawa masuk atau titipkan ke loket saja. Kalau ada apa-apa telepon saja ke nomer yang tadi. Jam 6 sudah harus kembali ya motornya.” Oke Pak. Bismillah aman…

Begitu Pak Markus pulang, saya dan Gadis langsung meluncur mencari toilet terdekat – perut sudah mulai berkontraksi haha. Harapan kami adalah mencari toilet di indomaret atau pom bensin – mana yang lebih duluan ketemu. Begitu melihat plang indomaret di depan, harapan kami langsung muncul, saya tancap gas menuju indomaret tsb, namun sayang ternyata masih tutup. Tidak jauh dari sana ada alfamidi yang untungnya sudah buka.

Sambil menunggu gadis yang sedang ke toilet, saya melaksanakan pesan Pak Markus tadi : menjaga helm supaya tidak hilang, sambil mengobrol dengan mas-mas penjaga alfamidi, memastikan posisi pom bensin yang sebetulnya sudah saya tanyakan ke Pak Markus sebelumnya. Ternyata benar sudah dekat. Tetapi baru buka nanti sekitar jam 7. Saya lihat jam dan ternyata baru jam 6. Waduh.

Setelah Gadis keluar dari dalam toko, kami langsung menuju ke Pom Bensin. Ternyata benar pom masih belum buka. Walaupun begitu sudah ada 1 mobil yang berhenti di luar pom. Kami pikir mobil tersebut sedang parkir, tapi ternyata juga sedang menunggu dibukanya pom. Jadilah kami berdua dan bapak pengemudi mobil mengantri di depan pom yang masih digerendel, sambil melihat mas-mas petugas pom melakukan Quality Control. Sekitar jam 6.45 akhirnya pom resmi dibuka. Saya langsung mengantri isi bensin, Gadis bergegas memeriksa ke dalam memeriksa toilet.

Begitu saya selesai mengisi bensin, Gadis sudah hilang. Saya telepon dia sudah di dalam toilet, sedangkan di luar toilet sedang ada anjing yang ribut menggonggong.  Alamaak… saya dengan kucing saja takut, apalagi ini dengan anjing. Yasudah pasrah saja saya menunggu di luar sambil berdoa supaya anjingnya segera sadar ada saya yang sedang antri toilet haha.

Untungnya tidak lama kemudian, sang anjing sudah berhenti menggonggong dan sudah pindah tempat nongkrong. Langsung saya menuju toilet dan bersih-bersih badan, mandi seadanya dan ganti baju bersih.

Jam setengah 8 kami sudah mandi, sudah rapi, sudah wangi. Siap menjelajah toraja.

Tujuan pertama kami adalah mencari sarapan. Ingat pesan Pak Halim kemarin, hati-hati memilih makanan selama di Toraja. Karena masih pagi, belum banyak warung makan yang sudah buka. Andaikan pun sudah buka, menu yang dijual adalah menu yang tidak halal untuk kami makan. Di depan pasar Rantepao yang masih tutup kami menemukan gerobak penjual bubur. Sakit gigi Gadis sedang kumat lagi, cocok lah menu ini sebagai sarapan. Saya pesan bubur kacang hijau, Gadis pesan bubur ayam. Rasanya enak, seperti rasa di Jawa. Ternyata yang jual memang orang Jawa, asli solo yang sudah 10 tahun merantau ke Rantepao.

20170415_073053
Lesehan makan bubur. Lesehannya sih biasa. Yang bikin luar biasa adalah ini lesehannya di Toraja. Woohoo!

Kenyang makan bubur, kami menuju poll bus primadona untuk ambil tiket untuk nanti malam dan titip tas ransel. Roti maros yang masih ada kami berikan kepada mas-mas penjaga loket, aqua kami bawa untuk bekal perjalanan.

20170415_080232
Tiket Bus pulang ke Makassar sudah di tangan

Oiya, ngomong-ngomong soal bus, terimakasih kepada bus primadona yang sangat nyaman untuk beristirahat panjang di malam hari. Ketika bangun tidur subuh keesokan harinya, kami sudah langsung merasa segar, rasa capek hasil panas-panasan di Maros sudah hilang. Siap menjelajah Toraja dengan full energi!

Beres menitipkan bawaan, kami tancap gas menuju tujuan pertama : Ke’te’ Kesu.

Kete Kesu

20160223112309_IMG_0969
Pagi-pagi sudah stand by di Kete Kesu 🙂

Sekitar setengah jam dari poll Bus primadona, kami sampai ke Ke’te’ Kesu. Kalau dari pusat kota Rantepao, ambil jalan ke arah Makale. Lalu belok kiri di pertigaan yang ada patung kerbau albino (Gadis bilang ini patung babi haha). Dari situ jalan agak menanjak dan tidak lama akan sampai ke Ke’te’ Kesu.

Sekitar jam 8.30 kami sudah sampai di Ke’te’ Kesu. Di pintu masuk kami bertemu dengan Pak Sadan (kalau saya tidak salah ingat namanya), yang wajahnya mirip dengan Bapak Jokowi. Isi buku tamu, bayar tiket masuk, kami lalu dipersilahkan langsung dipersilahkan masuk ke dalam.

DSCF0308
Registrasi sambil bayar tiket masuk
DSCF0309
Halo Mr. President!

Mengunjungi Ke’te’ Kesu memang sebaiknya dilakukan pagi-pagi sekali, ketika masih sepi dan belum terlalu banyak pengunjung. Kalau sudah agak siang dan pengunjung sudah mulai ramai, akan agak susah mencari spot foto yang bagus, ramai dimana-mana. Benar saja, sekitar jam 9.30 ketika pengunjung sudah mulai ramai berdatangan. Kami sudah puas berfoto dan masuk ke rumah tongkonan, jadi bisa lanjut ke bawah ke area oleh-oleh.

DSCF0356
Semakin siang, semakin ramai
DSCF0332
Tanduk kerbau yang dipasang di depan rumah. Semakin sejahtera, semakin banyak tanduknya.
DSCF0342
Ini anjing paling selow se-antero Toraja. Dari kami datang sampai kami pulang, dari sepi pengunjung sampai ramai banget, posisinya masih aja tiduran mager begini.

Ketika lagi asik berfoto, Gadis tiba-tiba bilang,”Mbak, badanku sakit semua. Kayaknya mulai lagi ini Mbak.” Ya ampun, saya lupa kalau Gadis agak sensitif. Saya pikir disini hanya ada rumah tongkonan, ternyata ada plang yang menunjukkan arah ke daerah kuburan. Gawat, pikir saya. Karena setelah ini kami akan ke Londa dan Lemo, yang adalah murni daerah pemakaman. Kalau disini saja Gadis sudah ‘disapa’, apalagi disana.

“Papa belum angkat telponnya Mbak”. Biasanya kalau sudah seperti ini, Gadis bisa enakan lagi kalau sudah telpon Papanya. Yasudah pasrah menunggu sampai Papanya Gadis menghubungi balik. Sambil menunggu, kami menuju deretan toko oleh-oleh di bagian bawah.

DSCF0345
Awas ngga kuat iman lihat barang lucu-lucu disini
DSCF0347
Berbagai macam ukiran khas Toraja
DSCF0352
“Pohon Kehidupan”. Lukisan khas Toraja
DSCF0355
Ini namanya Tau-Tau. Patung ukir kayu khas Toraja.

Gara-gara turun ke area oleh-oleh, kami jadi tergiur belanja oleh-oleh yang lucu-lucu. Padahal kami sudah bertekad baja, berangkat dan pulang tetap dengan 1 ransel saja. Apa daya karena yang dijual banyak yang lucu, keluar dari area oleh-oleh di bagian bawah, kami menenteng 1 kresek berisi barang belanjaan. Ditambah ketika kami masuk ke toko oleh-oleh yang ada di dekat pintu masuk milik Ibu Yoan. Kalau toko-toko di bawah menjual versi umumnya, di toko Ibu Yoan ini yang dijual lebih premium.

DSCF0357
jejeran pernak-pernik karya Ibu Yoan yang siap diadopsi dan dibawa pulang
DSCF0361
Beli… Ngga.. Beli… Ngga…

Agak lama kami di toko Ibu Yoan, mencoba berbagai macam pernak-pernik yang bisa dicoba, sambil Gadis telpon-telponan dengan Papanya, yang sudah bisa dihubungi. Begitu telepon ditutup, Gadis sudah ceria kembali. Alhamdulillah kejadian tadi pagi tidak berulang lagi, bahkan ketika kami di Londa dan di Lemo.

Keluar dari toko Ibu Yoan, belanjaan kami sudah beranak pinak menjadi 1 kresek besar berwarna merah. Habis lucu-lucu sih barangnya. Haha iya ini pembelaan :). Semoga masih bisa cukup masuk tas ransel.

Ketika sampai di parkiran, drama pun terjadi lagi. Saya lupa bagaimana cara membuka bagasi motor seperti yang tadi pagi sudah diajarkan Pak Markus. Kalau model motor lama sih tinggal putar kunci di bagian bawah jok penumpang. Nah ini pakai motor baru yang kuncinya ada di dekat starter motor. Mampus.

Kami pun membuat heboh beberapa orang yang saat itu sedang ada di parkiran motor, termasuk Pak Sadan, sang Pak Jokowi kw super. Lalu ada bapak-bapak berjaket kulit hitam penyelamat bangsa datang, menunjukkan cara membuka bagasi, yang ternyata sangat gampang. Tinggal putar ke arah kiri, dan jangan ditekan. Voila, bagasi langsung terbuka dengan gampangnya.

Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada orang-orang yang sudah membantu kami, kami melanjutkan perjalanan selanjutnya : menuju Londa. Waktu menunjukkan sekitar jam 11 waktu kami sampai keluar parkiran, dan di jalanan sudah semakin ramai oleh kendaraan yang akan masuk ke Ke’te’ Kesu.

DSCF0321
Di depan rumah tongkonan. Pose terakhir sebelum pulang 😦

Ayo lanjut lagi ke Londa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s