Jelajah Maros (3) : Main Air di Rammang-Rammang

Rammang-Rammang

Begitu energi kami sudah terisi ulang lagi – dengan minuman dingin, leyeh-leyeh di masjid dengan kipas angin semi blower, dan semangkok bakso dan batagor, kami melanjutkan perjalanan ke Rammang-Rammang. Ternyata benar saran Pak Halim, ke Rammang-Rammang sebaiknya memang pas jika dikunjungi di sore hari, ketika matahari bersinar tidak terlalu terik. Panasnya juara!

Rammang-Rammang ini memang belum terlalu lama terekspos sebagai tempat wisata di Kabupaten Maros. Kalau tidak salah baru 1-2 tahun terakhir ini pesona rammang-rammang mulai dikenal oleh masyarakat luas, terimakasih kepada kaum netizen yang banyak memposting tentang keindahan tempat ini. Nah, sebenarnya yang menjadi tujuan wisata utama disini adalah Kampung Barua, tempat dimana hutan Karst (batu kapur) terbesar ketiga di dunia berada. Tetapi selain itu masih banyak lokasi lain di sepanjang sungai, yang menarik untuk disinggahi juga.

Ibarat pepatah, banyak jalan menuju roma. Sama juga seperti disini, banyak jalan menuju Rammang-Rammang. Bisa lewat jalur darat, atau lewat jalur air dengan naik perahu dari Dermaga 1 atau Dermaga 2. Kami memilih berangkat dari Dermaga 1 karena menurut informasi dari sinilah kita akan mendapatkan pemandangan terbaik sepanjang perjalanan.

Sampai di dermaga 1, sudah ada 3 orang yang sedang antri menunggu kapal yang akan berlayar. Melihat kami datang berdua, salah seorang dari mereka langsung menawarkan untuk menggunakan kapal bersama supaya lebih murah ongkosnya. For info, harga kapal untuk kapasitas 5-7 orang adalah 250ribu. Jika dibagi berlima berarti per-orang akan menjadi 50rb. Kami pun langsung mengiyakan demi alasan penghematan hehe.

Sepanjang perjalanan, kami pun berkenalan dengan rombongan ini, yang ternyata adalah satu keluarga – ayah, ibu, dan salah seorang anaknya. Si Ibu bernama Ibu Winda, pemilik salon kecantikan di Makassar. Mereka aslinya berasal dari Bulu Kumba tetapi tinggal di Makassar. Gadis langsung bersemangat mendengar nama kota ini karena ia ingin mengunjungi pantai disana yang konon katanya sangat indah pemandangannya. Namun sayang karena kami hanya punya waktu 3 hari disini, Bulu Kumba belum bisa kami kunjungi saat ini.

20160222184051_IMG_0855
Foto bersama Ibu Winda dan keluarga

Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan di kanan-kiri sungai. Indah sekali!

DSCF0258
Wisata sungai yang berasa ekspedisi ke pulau tak berpenghuni :p
DSCF0259
Awas batu!
DSCF0246
cukup.. ngga… cukup… ngga… parno perahunya ngga cukup lewat celah batu sempit ini. hehe

Saya sempat agak parno ketika kapal mulai bergoyang – iya, saya memang tidak bisa berenang – dan ketika membayangkan tiba-tiba muncul seekor buaya atau ular dari dasar sungai. Oke, saya lebay.

20160222183837_IMG_0849
Dibalik senyum lebar ada doa yang terus-terusan dibaca dalam hati dan tangan yang pegangan kenceng ke pinggiran kapal 😀

Tidak butuh waktu lama hingga kami akhirnya sampai ke Kampung Barua. Mungkin sekitar 15 menit perjalanan. Segera saya dan Gadis membayar tiket masuk. Ternyata Ibu Winda dan keluarganya tidak ingin masuk, hanya ingin menikmati pemandangan dari pinggir sungai.  Ini berarti kami tidak bisa berlama-lama di dalam supaya Ibu Winda dan keluarganya tidak menunggu terlalu lama. Kami hanya berfoto di bagian depan, di dekat jembatan masuk. Apa daya akhirnya kami tidak jadi melihat Hutan Karst yang terkenal itu. Lain kali insha Allah akan kembali lagi kesini!

DSCF0269
Selamat datang di Kampung Barua
20160222190125_IMG_0877
foto-foto lagi di jembatan 🙂

Kami pun kembali ke kapal untuk menempuh perjalanan kembali ke dermaga. Di tengah perjalanan kami melihat ada tempat yang lumayan ramai di kiri sungai. Ketika bertanya kepada pengemudi kapal, sang bapak pengemudi bilang itu adalah bangunan kafe. Begitu mendengar kata kafe, Ibu Winda langsung spontan meminta berhenti karena ia ingin berfoto di situ. Dari ibu Winda, kami jadi tahu bahwa ada spot foto bagus di kafe ini yang sering diposting di berbagai sosial media.

Eh si bapak pengemudi bilang tidak bisa, karena tempatnya sudah terlewat, dan kapal tidak bisa putar balik. Padahal menurut saya bisa-bisa saja asal bapaknya mau, karena sungai nya cukup luas dan sedang kosong.

Itu bisa banget untuk putar balik Pak!

Saya masih kesel haha.

20160222183829_IMG_0848
Sebel ngga jadi mampir kafe 😦

Sepertinya sang bapak pengemudi merasa bersalah kepada kami, hingga akhirnya beliau mengajak kami untuk mampir ke Kampung Batu. Saya dan Gadis yang sudah puas melihat batu seharian ini, agak malas masuk ke dalam. Kami menemukan spot foto bagus di dekat pintu masuk, dan menghabiskan waktu disana sambil menunggu Ibu Winda berfoto di sana. Masuk kesini tidak dipungut biaya alias gratis. Yeay!

DSCF0275
Mampir lihat batu lagi
DSCF0277
Rumah bambu yang mendadak jadi tempat foto kece
20160222194105_IMG_0917
Foto-foto pelipur lara batal mampir ke kafe
20160222195115_IMG_0935
Ngga sengaja nemu spot foto kece ini
20160222195201_IMG_0938
sudah siap difoto lalu tiba-tiba ada kucing nyelonong lewat. OH NO!
DSCF0281
Objeknya masih tetap batu
DSCF0279
Alat transportasi utama disini : perahu motor warna-warni

Sekitar setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan kembali ke dermaga. Ibu Winda dan suaminya menawarkan kami untuk ikut bersama mobil mereka ke Makassar. Sayangnya kami sudah punya jadwal untuk langsung melanjutkan perjalanan malam itu juga ke Toraja. Kami pun bertukar nomor telefon dan akun Facebook (tidak lama kemudian Ibu Winda langsung mem-posting foto dan menge-tag kami hehe). Terimakasih Ibu Winda dan keluarga! Sampai bertemu lagi!

Picture1
terimakasih Ibu Winda dan keluarga! :*

Sampai di parkiran, Gadis tetap kekeuh untuk mengunjungi Kafe yang tadi terlewat. Kami pun meminta Pak Halim untuk mengantarkan kami ke dermaga 2. Ternyata lokasi kafe lorong (nama ini baru kami ketahui belakangan) sangat dekat dari dermaga 2, dan dapat ditempuh dengan jalan kaki. Mungkin dinamakan dengan kafe lorong karena posisinya dekat dengan dermaga 2 yang memiliki jembatan bambu, dimana kapal dari dermaga 1 harus melewati lorong di bawah jembatan untuk bisa melanjutkan perjalanan.

DSCF0304
Petunjuk jalan menuju kafe
DSCF0303
Ternyata kafe yang bikin heboh dari tadi punya nama… CAFE TEROWONGAN

Sampai di kafe, ternyata banyak spot foto yang bisa kami pakai, terutama di depan cottage yang ada di sebelah kafe. Kami tidak terlalu lama berada disini karena hari sudah mulai magrib.

DSCF0287
Cottage di samping cafe
DSCF0297
tempat wajib foto di cafe terowongan

Dari Rammang-rammang kami langsung menuju pool bis di Maros yang akan membawa kami ke toraja. Di tengah jalan Pak Halim menunjukkan posisi turun angkot di depan pabrik semen bosowa, seandainya kami menggunakan opsi pete-pete untuk perjalanan di Maros. Ternyata memang jauuuuuh saudara!!!

Kami sampai di pusat oleh-oleh roti Maros, yang merangkap sebagai tempat tunggu calon penumpang bus primadona yang akan berangkat ke Toraja. Di sekitar toko oleh-oleh ini ada toilet umum yang cukup bersih dan diatasnya juga ada musholla. Ada juga beberapa warung makan untuk nanti kami menunggu keberangkatan bus. Aman.

20170414_191753
Roti Maros yang melegenda

Tujuan pertama kami begitu turun dari mobil Pak Halim dan menyelesaikan urusan pembayaran adalah apotek, untuk membekali diri dengan senjata ampuh di perjalanan nanti malam : antimo. Di apotek ini kami juga menumpang sholat magrib sambil sedikit meluruskan kaki.

Karena lapar, kami tidak berlama-lama di dalam apotek, walaupun di dalam apotek sangat nyaman dan adem. Kami kembali ke toko oleh-oleh untuk membeli roti maros yang terkenal itu, lalu memutuskan untuk istirahat dan makan di warkop 24 di sebelah musholla.

Pilihan kami ternyata tepat. Warkop 21 ini sangat kondusif untuk menunggu bus datang : jual makanan, ada indomie, banyak sekali colokan dan ada wifi. Kami segera pesan makan dan mengeluarkan peralatan tempur : charger dan segala macam peralatan elektronik, demi menyambung hidup keesokan harinya. Bus akan berangkat dari Makassar jam 8.30 malam, jadi akan sampai disini sekitar jam 9.30. Masih ada sekitar 2.5 jam, cukup untuk mengisi baterai sampai penuh lagi.

20170414_190722
Waktunya isi energi
20170414_191715
menu makan malam : indomie kuah yang tidak pernah mengecewakan, ditambah dengan bandeng bakar tadi pagi.
20170414_190903
Antara, capek, bahagia ketemu colokan dan indomie, dan bosen nunggu bis datang
DSCF0307
Penampakan roti maros. enak, mirip roti kasur. tapi isian selainya manis sekali , kurang cocok untuk saya yang tidak suka terlalu manis.

Sebenarnya ada banyak sekali pilihan bus dari Makassar dengan tujuan Toraja, mulai dari pilihan merk bus, pilihan harga, sampai pilihan jam berangkat. Umumnya bis yang berangkat pagi lebih murah harganya daripada bus malam. Kami memilih bus malam supaya lebih efisien dari sisi waktu dan biaya – kami bisa menikmati berbagai spot wisata di siang harinya, lalu melanjutkan perjalanan antar kota sambil istirahat di bus di malam harinya – jadi bisa sekalian menghemat biaya penginapan.

Kami memilih menggunakan bus Primadona karena setahu kami hanya bus ini yang bisa dipesan secara online (http://primadonabus.com/) – sangat memudahkan kami yang posisinya jauh dari Makassar. Dan ketika melihat dan merasakan langsung bus yang akan kami naiki, WOW! Bis ini sangat nyaman bahkan untuk perjalanan jauh malam hari selama 8 jam yang harus kami tempuh untuk bisa sampai ke Toraja. Kursi bis sangat empuk, jarak antar kursi sangat longgar dan ada sandaran kaki yang bisa kami gunakan untuk meluruskan kaki. Di dalam bus disediakan selimut dan bantal yang wangi, ada wifi, dan ada colokan untuk charger (ini baru kami ketahui besoknya dalam perjalanan pulang ke Makassar). Disediakan pula snack dan aqua (ini sangat berguna untuk perjalanan di Toraja keesokan harinya, jadi jangan sampai ketinggalan di bus). Di bus tidak disediakan toilet. Jika ingin ke toilet di tengah perjalanan, tinggal bilang ke supir, dan bus bisa berhenti sebentar.

20170415_200920
Interior Bus Primadona. Kamar kami malam ini.
20170414_214302
Siap tidur… walaupun tidurnya cuma di kursi bis, rasanya seperti di kasur kamar.

Oiya, sebelum naik mas-mas kernet akan bertanya turun di mana. Pilihannya mau turun di Pool Makale (ibukota Toraja Selatan), pool Rantepao (ibukota Toraja Utara), atau bisa juga turun langsung di hotel. Yang paling banyak dipilih ada turun di Rantepao, karena obyek wisata nya lebih dekat dan mudah dijangkau daripada turun di Makale.

Tips dari saya berdasarkan pengalaman :

  1. Di Pool maros akan diberikan snack kotak (isi roti maros 2 buletan dan 1 roti kukus) dan aqua 600 ml untuk setiap penumpang. Snack dan aqua ini sebaiknya tidak diletakkan di bagasi kabin. Pengalaman kami kemarin, kotak snack dan aqua bergulingan jatuh pas bus jalan kencang. Lebih baik letakkan snack dan aqua di kantong kursi di depan kita.
  2. Roti dan aqua ini sebaiknya tidak ditinggal di bus ketika turun. Percayalah ini sangat bermanfaat sebagai sumber tenaga untuk jelajah Toraja seharian keesokan harinya.
  3. Saya agak kesulitan mengatur sandaran kursi di bus ketika pertama kali naik. Maklum bukan anak bis mania haha. Untungnya ada bapak-bapak baik hati yang mengajarkan caranya. Ini tips untuk yang dapat tempat duduk di pinggir lorong (kalau yang di dekat jendela sih gampang : tinggal tarik tuas kursinya saja). Nah tuas ini yang saya cari dan tidak ketemu. Ternyata, caranya adalah angkat dulu sandaran tangan (dinaikan sampai ke posisi siku), lalu tekan tombol merah yang ada di samping kursi sebelah kursi, sambil dorong kursi ke arah belakang. Dorong agak kuat sampai kursi terasa terdorong ke belakang. Beres. Jangan malu minta tolong teman sebelah untuk bantu mendorong kursinya ke belakang, karena lumayan berat untuk saya kemarin hehe.
  4. Sama dengan tips untuk menaruh snack, barang bawaan sebaiknya diletakkan di bawah kursi. Atau sekalian di bagasi bawah bus kalau bawaannya banyak. Insha Allah aman.

Tidak lupa kami segera meminum antimo – antisipasi supaya istirahat kami tenang dan tanpa gangguan. Menurut informasi yang kami dapat, setengah perjalanan yang akan kami tempuh ini akan melewati jalan yang cukup berliku dan rawan membuat mual – bagi yang belum terbiasa. Tidak lama setelah bus berangkat, kami pun langsung tertidur pulas – mungkin karena efek antimo yang kami minum, atau mungkin juga karena kelelahan setelah jalan-jalan seharian di Maros tadi siang. Ketika bangun, waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi dan kami sudah sampai di Rantepao, ibukota Toraja Utara.

Tidak sabar untuk memulai petualangan di Toraja!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s